Sabtu, 14 Maret 2015

ISO/TS 16949:2009

ISO/TS 16949:2009 adalah Technical Specification nomor 16949 yang dikeluarkan oleh badan ISO sebagai sistem manajemen mutu untuk industri otomotif. 
ISO/TS 16949:2009 dibuat oleh International Automotive Task Force (IATF) dan Japan Automobile Manufacture Association Inc (JAMA) dengan dukungan suatu komite dari ISO, yaitu komite ISO/TC 176.
 Anggota IATF terdiri dari BMW, Daimler Chrysler, Fiat, Ford, GM, PSA Peugeot Citroen, Renault SA, Volkswagen, dan asosiasi-asosiasinya, seperti AIAG (Amerika), ANFIA (Italia), FIEV (Prancis), SMMT (Inggris), dan VDA (Jerman) Anggota JAMA terdiri dari Toyota, Daihatsu, Mazda dan industri otomotif Jepang lainnya.

ISO/TS 16949:2009 memuat semua persyaratan ISO 9001 ditambah dengan persyaratan khusus untuk industri otomotif dan disusun berdasarkan 8 prinsip manajemen mutu ISO 9001:2008. 
ISO/TS 16949:2009 menggantikan QS9000 dan quality system lainnya yang disyaratkan oleh masing-masing industri otomotif. Dengan adanya penggabungan quality management system dari berbagai industri otomotif ini, suatu industri otomotif cukup menerapkan satu quality system meskipun memproduksi produk untuk berbagai customer. 
Misalnya suatu pabrik A mempunyai customer Ford, BMW dan VW. Semula dia harus menerapkan QS9000, AVSQ dan VDA 6.1. Sekarang cukup menerapkan ISO/TS 16949:2009. 
Tujuannya : One World, One Quality System. 

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menerapkan ISO/TS 16949:2009 :
    •   Penetapan sasaran dan target
    •   Penetapan kepuasan pelanggan
    •   Perbaikan yang keberlajutan
    •   Analisis Data
    •   Memastikan kesesuaian dengan persyaratan dan peraturan perundangan
    •   Tinjauan manajemen dilakukan untuk memonitor sasaran mutu yang stategis dan kinerja sistem
    •   Verifikasi proses
    •   Penetapan dan pemeliharaan Plant, Peralatan, dan Fasilitas
    •   Review efektivitas dari pelatihan


Manfaat menerapkan ISO/TS 16949:2009

  • Meningkatkan kualitas produk dan proses ; hal ini dapat tercapai karena di dalam persyaratan baru mengcover diantaranya, mengenai : penetapan target, pengukuran dan reviewnya, pengukuran kepuasan pelanggan, keselamatan produk, kesesuaian dengan persyaratan dan perundangan, manajemen desain proses, penerapan teknik dan alat-alat kualitas.
  • Meningkatkan keyakinan di Global Procurement ; dengan skema standard yang jelas, maka mengeliminasi perbedaan pemahaman standar, proses sertifikasi benar-benar diseleksi berdasarkan kriteria ISO/TS 16949:2009 dengan ruang lingkup.
  • Pendekatan sistem mutu yang seragam/sama untuk pengembangan subkontraktor; dengan standar ini akan mengurangi variasi proses oleh subkontraktor sehingga hasil proses dapat lebih baik.
  • Mengurangi variasi dan meningkatkan efisiensi; dengan penerapan beberapa persyaratan yang relevan akan mengurangi hal tersebut, antara lain : Mistake Proofing, Continous Improvement, Failure Mode effect Analisys, Statistical Process Control.
  • Mengurangi audit pihak kedua ; dengan diterimanya standard ini oleh banyak negara, hal ini berdampak berkurangnya audit pihak kedua.

Dokumentasi ISO/TS 16949:2009
Dokumen-dokumen yang terkait:
  • Quality Management System ISO/TS 16949:2009, 2nd edition, yang mencakup standard ISO 9001:2008 specific automotive requirements.
  • Quality System Assessment Checklist to ISO/TS 16949:2009, yang mencakup checklist utk audit ISO TS.
  • IATF Guidance to ISO/TS 16949:2009, yang mencakup guidance untuk implementasi ISO TS yang dikeluarkan oleh IATF (International Automotive Task Force Rules for achieving IATF Guidance, yang mencakup tahapan sertfifikasi ISO TS yang dikeluarkan oleh IATF (international Automotive Task Force)
Tool-tool penunjang :
  • APQP (Advance Porduct Quality Planning) adalah suatu tools untuk perencanaan produk.
  • PPAP (Production Parts Approval Process) adalah suatu tools untuk mengevaluasi part-part yang dibutuhkan dalam suatu produk.
  • FMEA (Failure Mode and Effects analysis) adalah suatu tools untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kemunginan kegagalan produk/ proses.
  • MSA (Measurement System Analysis) adalah suatu tools untuk menganalisis apakah suatu sistem pengukuran (operator, alat ukur, cara mengukur paramenter proses produksi)berfungsi sesuai ketentuan.
  • SPC (Statistical Process Control) adalah merupakan suatu tools untuk mengontrol proses (parameter proses) dengan menggunakan data dan analisis statistik.
Customer Specific Requirements : Adalah persyaratan spesifik yang ditetapkan oleh masing-masing industri otomotif.
Informasi lain yang relevan dan terkait:
persyaratan spesifik yang diterapkan untuk masing-masing vendor, termasuk sangsi sangsi terhadap penerapan.
Jadi bagi organisasi yang ingin menerapkan ISO/TS 16949:2009 , perlu mempersiapkan diri dengan melengkapi terlebih dahulu persyaratan dokumentasinya, sehingga memudahkan di dalam mengembangkan sistem manajamen otomotif ISO/TS 16949:2009 serta mengintegrasikannya dengan persyaratan ISO 9001:1008 yang telah dimiliki sehingga implementasinya dapat semakin efektif.

 

Senin, 15 Oktober 2012

Software Quality Assurance (SQA)

Tujuan dari Software Quality Assurance (SQA) sebenarnya adalah untuk menghasilkan suatu produk perangkat lunak (software) yang berkualitas tinggi. SQA merupakan salah satu aktivitas yang harus dijalani dalam suatu proses pengembangan software.

SQA meliputi beberapa konsep sebagai berikut:

1. Pendekatan kualitas manajemen,
2. Teknologi rekayasa perangkat lunak yang efektif (metode dan tools yang digunakan),
3. Tinjauan teknis secara formal yang diaplikasikan melalui proses pengembangan software,
4. Strategi uji coba software yang multitier,
5. Kontrol terhadap dokumentasi software dan perubahannya,
6. Prosedur untuk memastikan pemenuhan standar pengembangan software, jika software tersebut diaplikasikan, dan
7. Mekanisme pengukuran dan laporan.

Faktor Kualitas
  • Correctness : besarnya program dapat memuaskan spesifikasi & objektivitas dari misi pelanggan
  • Reliability : besarnya program dapat diharapkan memenuhi fungsi2 yg dikehendaki
  • Efficiency : jumlah sumber2 & kode yg dibutuhkan program utk menjalankan fungsi2
  • Integrity : besarnya pengontrolan pengaksesan oleh seseorang yg tidak mempunyai otorisasi terhadap perangkat lunak atau data
  • Usability : effort (usaha) yg dibutuhkan utk mempelajari, mengoperasikan, menyiapkan input & mengintepretasi kan output program
  • Maintainability : usaha yg dibutuhkan utk menempatkan & menetapkan suatu kesalahan pada program
  • Flexibility : usaha yg dibutuhkan utk memodifikasi program yg dioperasikan
  • Testability : usaha yg dibutuhkan utk menguji program utk menjamin tlh dijalankannya program yg diharapkan
  • Portability : usaha yg dibutuhkan utk mentransfer program dari lingkungan sistem per.lunak &/ per.keras ke lingkungan lain
  • Reusability : besarnya program dpt digunakan oleh aplikasi lain
  • Interoperability : usaha yg dibutuhkan utk memasang-kan satu sistem dgn yg lain
Pengukuran Kualitas Perangkat Lunak
  • Auditability : mudah utk dicek mengenai konfirmansi standar
  • Accuracy : presisi komputasi & pengontrolan
  • Communication commonality : derajat pengunaan interface, protokol & bandwidth yg standar
  • Completeness : derajat pencapaian implementasi full dari fungsi2 yg dibutuhkan
  • Conciseness : kepadatan program dalam lines of code
  • Consistency : penggunaan teknik dokumentasi & perancangan yg seragam
  • Data commonality : penggunaan struktur & tipe data standar
  • Error tolerance : akibat yg timbul pada saat program menemui kesalahan
  • Execution efficiency : kinerja waktu eksekusi pada program
  • Expandability : derajat dimana perancangan terprosedur, data & arsitektur dapat diperluas
  • Generality : kelonggaran aplikasi dari komponen program
  • Hardware independence : derajat dimana per. Lunak dipisahkan dari per. keras atau yg mengoperasikannya
  • Instrumentation : derajat dimana program memonitor operasinya sendiri & mengindentifikasikan kesalahan2 yg timbul
  • Modularity : kemandirian fungsional dari komponen program
  • Operability : kemudahan pengoperasian program
  • Security : ketersediaan mekanisme yg mengontrol atau memproteksi program & data
  • Self-documentation : derajat dimana source code menyediakan dokumentasi yg berarti
  • Simplicity : derajat dimana program dapat dimengerti dengan mudah
  • Software system independence : derajat dimana program berdiri sendiri dari fitur bhs pemrograman, karakteristik sistem pengoperasian & batasan lainnya yg tdk standar
  • Traceability : kemampuan utk menelusuri representasi perancangan atau komponen program aktual, kembali ke kebutuhan
  • Training : derajat dimana per. lunak dapat membantu pengguna yg baru dalam mengaplikasikan sistem

Selasa, 04 September 2012

Pengertian SAP dan ERP

Pengertian SAP dan ERP

SAP (System Application and Product)

Pengertian SAP
SAP” adalah suatu nama mungkin sudah tidak asing lagi untuk praktisi-praktisi IT dunia, maupun di Indonesia. “SAP” ini adalah singkatan dari “System Analysis and Program Development (in German : Systemanalyse und Proggrammentwicklung)” yang ditemukan oleh Wellenreuther, Hopp, Hector, Plattner, dan Tschira pada tahun 1972. Yang kemudian berganti menjadi “Systems Application and Products in Data Processing” pada tahun 1977. “SAP”yang dikenal pada saat ini adalah sistem R/3-nya yang sudah teruji oleh perusahaan-perusahaan dunia dalam menjalankan bisnisnya, yang lebih dikenal dengan SAP R/3. Sebelum sampai ke generasi R/3, SAP sudah melewati tahap R/1 dan R/2. Selain sistem R/3 yang terkenal banyak juga solusi-solusi bisnis lainnya antara lain SAP BI (Business Intelligence) yang digunakan untuk Data Warehousing, SEM (Strategic Enterprise Management), SCM (Supply Chain Management), CRM dan masih banyak solusi-solusi bisnis lain yang ditawarkan oleh SAP untuk berbagai jenis bidang usaha di dunia.
SAP adalah merupakan salah satu software ERP (Enterprise Structure) terkemuka dunia yang sekarang ini sedang banyak diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan di Asia.  Di Indonesia sendiri, sudah banyak perusahaan-perusahaan besar dan menengah yang sudah berhasil mengimplementasikan SAP untuk mendukung proses bisnisnya. Memang harga untuk mendapatkan suatu ERP dunia juga harus dibayar mahal baik dari segi licensenya, konsultan IT, dan juga SDM yang masih langka.


ERP (Enterprise Resource Planing)

  • A.Sejarah Singkat Enterprise Resource Planning (ERP)
ERP berkembang dari manufacturing resouces planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evalusi dari material requirement planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur, logistik, distribusi persediaan (inventori), pengapalan, invois dan akunting perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia.
Enterprise Resource Planning (ERP) dan pendahulunya, Manufacturing Resource Planning (MRP II), memungkinkan terjadinya kemajuan yang sangat besar dalam manajemen proses-proses manufakturing. ERP juga salah satu faktor penyumbang pada performa ekonomi Amerika yang luar biasa pada era 1990-an. Tidak diragukan bahwa ERP adalah tonggak sejarah dalam proses industri. Berikut beberapa contoh bagus mengenai penerapan ERP di berbagai perusahaan.
  1. Enterprise Resource Planning membantu sebuah perusahaan menaikan 20% tingkat penjualannya di tengah industri yang sedang menurun. Wakil presiden bidang penjualan menjelaskan, “Kita berhasil menangkap bisnis dari saingan-saingan kita. Berkat ERP, kini kita dapat mengirim lebih cepat dari mereka dan tepat waktu”.
  2. Enterprise Resource Planning membantu sebuah perusahaan Fortune 50 dalam mencapai penghematan biaya yang sangat besar dan mendapatkan keunggulan daya saing yang signifikan. Wakil presiden bidang logistik menyatakan, “ERP menyediakan kunci untuk menjadi perusahaan global. Keputusan dapat diambil dengan data yang akurat dan dengan proses yang menghubungkan demand dan supply di berbagai belahan dunia. Perubahan ini bernilai miliaran bagi kami dalam penjualan di seluruh dunia”.
     Investasi ERP sangat mahal dan pilihan ERP yang salah bisa menjadi mimpi buruk. ERP yang berhasil digunakan oleh sebuah perusahaan tidak menjadi jaminan berhasil di perusahaan yang lain. Perencanaan harus dilakukan untuk menyeleksi ERP yg tepat.
  • Pengertian ERP.
Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto adalah aplikasi yang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas. Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-sistem yaitu sistem finansial, sistem distribusi, sistem manufaktur, sistem maintenance dan sistem human resource.
     ERP(Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.
Pada prinsipnya, dengan sistem ERP sebuah industri dapat dijalankan secara optimal dan dapat mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisien seperti biaya inventory (slow moving part, dan lain-lain), biaya kerugian akibat ‘machine fault’ dan lain-lain. Di negara-negara maju yang sudah didukung oleh infrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT (Just-In-Time). Di sini, segala sumberdaya untuk produksi benar-benar disediakan hanya pada saat diperlukan (fast moving). Termasuk juga penyedian suku cadang untuk maintenance, jadwal perbaikan (service) untuk mencegah terjadinya machine fault, inventory.

  • Beberapa variasi ERP
Di sistem manufaktur sendiri bisa terdapat beberapa variasi:
1.make-to-stock (diproduksi untuk dijadikan stok)
2.assemble-to-order (dirakit berdasarkan permintaan)
3.assemble-to-stock (dirakit untuk dijadikan stok)
4.make-to-order (diproduksi berdasarkan permintaan).
Contoh make-to-stock misalnya: pabrik kertas dimana kertas itu sudah menjadi suatu komoditi yang bisa dijual kapan saja. Sebuah contoh assemble-to-stock misalnya: pabrik TV yang mendatangkan komponennya secara knockdown yang kemudian di rakit untuk dijadikan TV siap jual.
       Pada dasarnya, semakin kompleks suatu industri, maka sistem manufaktur tersebut juga makin menuju ke sistem assemble-to-order atau make-to-order. Sebagai contoh, industri pesawat nyaris tidak mungkin memakai sistem make to stock karena komponennya saja perlu di rancang khusus. Untuk industri seperti itu, beberapa vendor sistem ERP juga menyediakan sistem Project Management sebagai ganti dari sistem produksi.
  • Proses dalam ERP
Sistem ERP dirancang berdasarkan proses bisnis yang dianggap ‘best practice’ – proses umum yang paling layak ditiru. Misalnya, bagaimana proses umum yang sebenarnya berlaku untuk pembelian (purchasing), penyusunan stok di gudang dan sebagainya.
Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari sistem ERP, maka industri kita juga harus mengikuti ‘best practice process’ (proses umum terbaik) yang berlaku. Di sini banyak timbul masalah dan tantangan bagi industri kita di Indonesia. Tantangannya misalnya, bagaimana merubah proses kerja kita menjadi sesuai dengan proses kerja yang dihendaki oleh sistem ERP, atau merubah sistem ERP untuk menyesuaikan proses kerja kita. Management sebagai ganti dari sistem produksi sebelumnya.
      Apa itu ERP? ERP (Enterprise Resource Planning) sebuah akronim yang memang belum menggambarkan makna yang sebenarnnya. Agar mudah memahaminya, abaikan kata Planning dan Resource, tapi perhatikan kata Enterprise. Di kata Enterprise itulah letak makna ERP yang sebenarnya.
ERP merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu sistem komputer yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, baik dari departemen penjualan, HRD, produksi atau keuangan. Meski kebutuhannya berbeda, ERP harus mampu memenuhinya. Satu syarat yang tidak boleh ditawar-tawar lagi adalah terintegrasi, yang menggabungkan berbagai kebutuhan pada satu software dalam satu logical database, sehingga memudahkan semua departemen berbagi informasi dan berkomunikasi.
           Sebagai contoh, order penjualan yang dicatat di departemen penjualan akan secara otomatis diketahui kapan harus dikirim oleh bagian gudang. Begitu juga, bagian keuangan akan mengetahui kapan kas akan masuk dari pelanggan. Berkurangnya jumlah barang di gudang secara otomatis akan diketahui pula oleh bagian perencanaan produksi. Jika jumlah barang mencapai kondisi tertentu, sistem akan membuat permintaan produksi. Saat itu, informasi mengenai bahan baku yang dibutuhkan telah pula disajikan oleh sistem.
Setelah bagian perencanaan produksi me-review informasi dan menyetujuinya, secara otomatis informasi akan mengalir ke bagian pembelian, yang memungkinkannya menghubungi pemasok untuk negosiasi harga dan pengiriman. Saat itu, bagian pembelian juga mendapatkan berbagai informasi berharga mengenai kinerja para pemasoknya.
Setelah kesepakatan diperoleh, order pembelian dibuat dengan menekan satu tombol dan informasi rencana kedatangan barang telah sampai di bagian penerimaan barang. Sementara itu, bagian keuangan akan memperoleh informasi berapa jumlah uang yang harus disiapkan untuk order pembelian. Demikian seterusnya, sehingga keseluruhan alur proses bisnis di perusahaan tersebut menjadi sangat efisien. Perubahan-perubahan yang terjadi di satu bagian dapat diantisipasi dengan baik oleh bagian terkait lainnya.
        Meski banyak analis dan vendor perangkat lunak mendefinisikan berbeda-beda, namun maknanya relatif sama. Ada yang menyebutnya ERP, karena merupakan evolusi dari MRP – Material Requirement Planning menjadi MRP II – Manufacturing Resource Planning, yang kemudian menjadi ERP – Enterprise Resource Planning. Ada juga yang menyebut ERM – Enterprise Resource Management, sekedar mendekatkan makna dan akronimnya. Suatu sistem yang mengelola seluruh sumber daya perusahaan.
ERM ini yang kemudian mendorong munculnya jargon baru TI, seperti CRM (Customer Relationship Management), SCM (Supply Chain Management), PLM (Product Lifecycle Management) dan SRM (Supplier Relationship Management). Jargon-jargon baru itu, pada intinya, adalah pemanfaatan lebih lanjut suatu sistem yang fokus utamanya adalah customer untuk CRM, rantai pergerakan barang untuk SCM, daur hidup produk untuk PLM serta supplier untuk SRM. Posisi ERM ada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh CRM, SCM, PLM dan SRM.
      ERP akan berkembang terus sesuai dengan tuntutan konsumen. Yang jelas perkembangan ERP pada masa depan ini akan dititik-beratkan pada beberapa hal, yaitu, lebih mendukung customer service, lebih mendukung vertical industri spesifik (vertical industry), dan juga lebih mendukung proses pengambilan keputusan.